Deskripsi
Di zaman sekarang, sikap wara’ sudah menjadi hal langka dan mungkin tidak populer di tengah-tengah masyarakat, atau bahkan tidak pernah dikenal oleh kita. Sejak dulu Anas radhiyallahu ‘anhu telah berpesan kepada para sahabatnya ketika mengingatkan mereka agar tidak terjerumus dalam perbuatan haram atau dosa besar, “Sungguh kalian biasa melakukan suatu perbuatan yang di mata kalian lebih ringan dibanding rambut, padahal kami di masa Rasulullah menganggapnya sebagai dosa yang membinasakan.” (HR. Al Bukhari). Kalau saja Anas radhiyallahu ‘anhu masih hidup, entah apa yang akan diucapkannya ketika melihat kondisi umat Islam saat ini.
Sejatinya, Wara’ – yang didefenisikan oleh ulama dengan sikap menghindari hal-hal syubhat agar tidak terjerumus dalam perbuatan haram – tidak lain adalah buah dari sikap takut kepada Allah Ta’ala. Sebab, orang yang benar-benar takut kepada Allah akan mampu menahan diri dan mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan murka-Nya. Tingkat kewara’an seseorang dapat diukur dari sejauh mana rasa takut kepada Allah yang bersemai di dalam hati, lantaran mempertimbangkan siksa-Nya yang sangat pedih, pengetahuannya tentang Allah dan syariat-Nya. Implementasi dari sikap ini akan mencetak insan bertakwa yang paripurna sehingga kita layak menyandang status umat terbaik yang muncul di tengah-tengah manusia.






Mencetak Hafidz Cilik Meniti Jejak La Ode Musa
Air Mata Taubat
Biografi Imam Ahmad
Kamus Al Munawwir Arab - Indonesia
Wahai Adik-adik Cintailah Orang Tuamu
Syarhu Tsalatsatil Ushul
Wahai Adik-adik Cintailah Rasulullah
Madu Amandel Anak Syifa Kids Limandel
Madu Lengkap Si Buah Hati Syamil
Ummu Salamah
55 Wasiat Nabi
Ulasan
Belum ada ulasan.