Deskripsi
Panduan Qurban
Bagaimanakah hukum kurban? Apakah wajib ataukah sunnah? Jumhur atau mayoritas ulama menganggap kurban itu sunnah muakkad. Namun jangan sampai yang mampu atau punya kelapangan rezeki meninggalkannya.
Di antara dalil lain dari mayoritas ulama adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
“Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih qurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim no. 1977, dari Ummu Salamah). Yang dimaksud di sini adalah dilarang memotong rambut dan kuku shohibul qurban itu sendiri.
Sebagaimana dinukil dari Imam Nawawi, Imam Syafi’i berkata, “Dalil di atas menunjukkan bahwa hukum kurban itu tidak wajib. Karena dalam hadits digunakan kata “aroda” (siapa yang mau). Seandainya menyembelih qurban itu wajib, maka cukuplah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya hingga berkurban.” (Al Majmu’, 8: 217).
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menukil perkataan Ibnu Hazm bahwa tidak ada seorang sahabat pun yang menyatakan bahwa kurban itu wajib. Yang ada, mayoritas ulama menganggap bahwa hukum kurban itu sunnah. Namun kurban tetaplah disyari’atkan. Dinukil dari Adhwaul Bayan, 5: 617.
Dalam Al Majmu’ (8: 216), Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab Syafi’i dan madzhab mayoritas ulama, hukum kurban adalah sunnah muakkad bagi yang mudah (punya kelapangan rezeki) untuk melakukannya dan itu tidak wajib. Demikianlah pendapat kebanyakan ulama. Yang berpendapat demikian adalah Abu Bakr Ash Shiddiq, ‘Umar bin Al Khottob, Bilal, Abu Mas’ud Al Badri, Sa’id bin Al Musayyin, ‘Atho’, ‘Alqomah, Al Aswad, Malik, Ahmad, Abu Yusuf, Ishaq, Abu Tsaur, Al Muzani, Daud dan Ibnul Mundzir.”
Di akhir bahasan tentang hukum kurban, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Seandainya hukum kurban itu wajib, tentu tidaklah gugur karena luput, artinya mesti diganti sebagaimana keadaannya untuk shalat jum’at dan kewajiban lainnya. Namun ulama Hanafiyah berpendapat bahwa jika kurban itu luput, maka tidak wajib qodho’. Adapun jawaban untuk dalil-dalil yang mengatakan wajib, maka bisa jadi dalil tersebut dho’if sehingga tidak bisa dijadikkan argumen (pendukung). Seandainya shahih, maka hadits tersebut dibawa ke hukum sunnah karena kompromi berbagai dalil. Wallahu a’lam.” (Al Majmu’, 8: 217).
Jumhur atau mayoritas ulama yaitu ulama Syafi’iyah, Hambali, dan Malikiyah berpendapat bahwa hukum kurban itu sunnah muakkad. Namun bagi yang mampu dilarang meninggalkannya.
Buku ini membahas
1- Keutamaan qurban
2- Hikmah qurban
3- Ketentuan qurban
4- Adab penyembelihan
5- Pemanfaatan qurban
6- Penyaluran qurban
7- Masalah terkini seputar qurban
8- Menggabungkan qurban dan aqiqah






Neraka Shaqar Menanti Para Koruptor
Sirah Nabawiyah (sejarah Hidup Nabi Muhammad)
Suami Istri Dalam Rumah Mungil Bahagia Penuh Bahagia
Wabilush Shayyib
40 Manfaat Shalat Berjamaah
Tata Cara Wudhu & Shalat Orang Sakit
Standar Ganda (membuka Kacamata Keadilan Seorang Muslim)
Kitab Tauhid Jilid 1
Zainab Binti Jahesy
Cantik Dalam Perspektif Islam
Kisah Haru Yang Mengundang Tangis
PENGOBATAN CARA NABI TERHADAP KESURUPAN SIHIR DA
TUNTUNAN DOA & DZIKIR MANASIK UMRAH
Abdullah Bin Saad Bin Abu Sarah
Ringkasan 10 Pembatal Keislaman
Raport Merah Yahudi Sepanjang Sejarah
Panduan Amal Sehari Semalam
Kisah-kisah Di Alam Kubur, Fitnah, Nikmat Dan Siksa Kubur
Gila Baca Ala Ulama
55 Wasiat Nabi
Hukum Lagu Musik Dan Nasyid
Mari Belajar Menulis Juz Amma
Sifat Shalat Nabi
Tarbiyatul Abna' Bagaimana Nabi Mendidik Anak
Peperangan Rasulullah (ghazawatu Ar-rasul)
Koko Anak Setelan Al Amwa
Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Intisari Arbain An-nawawi
Mendidik Anak Perempuan
Hukum Jual Beli
Rahasia Qiyamul Lail
Bersemilah Ramadhan
Rukun Islam (anak)
Syarah Umdatul Ahkam